Di Yogyakarta (6/2), The Yudhoyono Institute melanjutkan tradisi ruang dialog jernih — mempertemukan praktisi dan akademisi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa di tengah dunia yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian.
Diskusi menyoroti pergeseran global dari multilateralisme menuju unilateralisme, ketika logika kekuasaan kian mengemuka dibanding tata kelola internasional. Kekhawatiran juga mencuat atas berakhirnya sejumlah kesepakatan pengendalian senjata nuklir, yang meningkatkan risiko konflik berskala besar dengan dampak kemanusiaan yang sangat serius.
Bapak SBY menegaskan bahwa para pemimpin dunia tidak boleh memilih “do nothing”. Ketika orang baik diam, kejahatan bisa menang. Dalam konteks Indonesia, penting memastikan politik luar negeri “Bebas Aktif” tetap konsisten, berlegitimasi domestik yang kuat, serta tidak terfragmentasi oleh kepentingan sektoral.
Indonesia diharapkan memainkan peran sebagai bridge builder — mengedepankan kekuatan ide untuk menjembatani Global North dan Global South, serta memperkuat posisi sebagai middle power yang kredibel. Diskusi juga secara kritis mencermati sejumlah inisiatif global, termasuk dinamika “Board of Peace”, agar tetap selaras dengan prinsip bebas aktif dan komitmen moral Indonesia.
Sebagai refleksi penutup, ditegaskan pentingnya mitigasi dan penguatan ketahanan nasional. Dunia boleh tidak pasti, tetapi kesiapan dan daya tahan harus dibangun, dari pusat hingga daerah.
Terima kasih kepada para akademisi Universitas Gadjah Mada yang hadir dan memperkaya dialog:
Dr. Wawan Mas’udi (Dekan FISIPOL),
Dr. Ririn Tri Nurhayati (Ketua Departemen Hubungan Internasional),
Dr. Nur Rahmat (Ahli Politik Tiongkok dan Diplomasi Asia Timur),
Prof. Dr. Poppy S. Winanti (Ekonomi Politik Internasional),
Dr. Maharani Hapsari (WTO Chair UGM – Perdagangan Internasional),
Dr. Muhadi Sugiono (ICAN – Nobel Peace Prize 2017; Konflik & Perdamaian),
Dr. Randy Nandyatama (Kaprodi S1 HI – Regional/ASEAN Studies),
Dr. Lukmanul Hakim (Direktur Institute of International Studies – Global South Politics).
Dialog yang jernih adalah fondasi bagi kebijakan yang bijak.







